Selasa, 25 Januari 2011

KONSEP DASAR SUPERVISI PENGAJARAN

KONSEP DASAR SUPERVISI PENGAJARAN
(makalah pendidikan)

PENGERTIAN SUPERVISI PENGAJARAN
Pengertian supervisi pengajaran adalah segala usaha dari administrator pendidikan dan administrator sekolah yang ditujukan untuk menolong dan memperbaiki serta meningkatkan keahlian guru dalam melakukan tugasnya, termasuk menstimulasi pertumbuhan dan pengembangan profesi para guru, pemilihan revisi tujuan-tujuan pendidikan, materi pengajaran, metode mengajar serta evaluasi pengajaran.
Sebagai administrator pendidikan dan administrator sekolah dalam melakukan supervisi tidak hanya menilai kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh guru dan murid akan tetapi dia juga harus memberi bimbingan, pertolongan serta dorongan dan semangat kepada guru-guru dan karyawan yang bersangkutan dengan adanya upaya melakukan perbaikan-perbaikan dalam pendidikan, baik yang berkaitan langsung dengan perbaikan kurikulum maupun tujuan pendidikan.
Begitu juga dengan seorang supervisor pengajaran, di dalam melaksanakan tugas hendaknya sesuai dengan konsep dasar yang terkandung dalam perkataan supervisi itu sendiri, Broadman di dalam tulisannya menyatakan bahwa maksud demokratis dari supervisi pengajaran adalah menekankan penghormatan terhadap personality, dalam arti keberadaan guru hendaknya mempunyai kebebasan dalam mengemukakan pemikiran-pemikirannya serta berpartisipasi secara inteligen dalam mengarahkan pengajaran dan penentuan kebijaksanaan, konsep demokratis ini didalamnya melekat adanya ideal kerjasama, yaitu ideal kerjasama antara pihak guru dengan supervisor dalam memecahkan masalah pengajaran, karenanya seorang supervisor pengajaran merupakan seorang penasehat, pembimbing dan penolong guru.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa supervisi pengajaran adalah suatu yang sangat dibutuhkan terlebih lagi kepada guru-guru baru, baik ketika berada di dalam kelas maupun disekolah. Sebagaimana contoh keberadaan supervisor yang ada di Amerika Serikat, banyak sekali tugas-tugas yang perlu dilakukannya, diantaranya adalah:

Menolong menyusun suatu program yang teratur.
Mendemonstrasikan atau mempertunjukkan teknik-tekinik mengajar yang baik.
Menyediakan alat-alat pengajaran yang akan dipertunjukkan serta mempraktekkannya di dalam kelas.
Menulis membuat laporan-laporan hasil-hasil pekerjaannya kepada kantor-kantor administrasi pendidikan.
Membantu guru-guru dalam membuat persiapan-persiapan pelajaran yang akan diajarkan.
Menolong guru dalam membuat catatan-catatan yang sistematis mengenai kemajuan murid-murid.
Memberikan saran-saran terhadap pemakaian fasilitas-fasilitas sekolah, agar fasilitas yang ada dalam sekolah itu dapat digunakan semaksimal mungkin.
Mengatur daftar kunjungan sekolah.
Mengatur dan menyusun daftar bacaan guru-guru yang bersifat profesional.
Memberikan bantuan dalam hal evaluasi untuk kenaikan kelas.
Semua hal diatas tidak hanya mengenai hal-hal yang terjadi didalam sekolah, tetapi juga mencakup hal-hal yang terjadi diluar sekolah yang ada kaitannya dengan pendidikan.

B. FUNGSI SUPERVISI PENGAJARAN
Menurut Mc. Nerney bahwa fungsi supervisi pengajaran adalah membantu para guru dalam memecahkan masalah-masalah yang mengganggu dan menghalangi berlangsungnya efektifitas dalam proses pendidikan, jadi bukan sebaliknya yaitu memberi tugas kepada guru yang tidak mampu ia kerjakan atau menilai kesalahan-kesalahan guru di muka kelas.
Diantara masalah-masalah yang sering terjadi adalah:
Masalah yang berkaitan dengan motivasi
Yaitu bagaimana yang harus dilakukan seorang guru dalam memberikan motivasi kapada siswa ketika mereka tidak begitu minat dengan satu mata pelajarn.
Masalah yang berkaitan dengan metode mengajar
Sebagai misal seorang guru mampu menyusun sebuah metode yang akan diterapkan dalam suatu mata pelajaran agar dapat diperoleh hasil yang baik.
Masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum
Umpamanya pada suatu sekolah yang berada pada masyarakat tertentu, muatan lokal apa saja yang harus dicari untuk mengisi dua puluh persen dari muatan lokal yang sudah ada yang didasarkan dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan.

Masalah yang berkaitan dengan evaluasi pengajaran
Sebagaimana berfikir mengenai bagaimana melakukan evaluasi yang benar-benar dapat mencerminkan kecakapan siswa, serta mampu menentukan instrument apa saja yang digunakan dalam proses evaluasi.

KEPEMIMPINAN DALAM SUPERVISI PENGAJARAN

A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan mengandung pengertian adanya seorang yang di dalam dirinya memiliki kemampuan untuk menggerakkan, mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain, sehingga orang-orang yang dipimpinnya itu berbuat dan bertindak sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang-orang yang menggerakkan, mengarahkan, untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

TUJUAN KEPEMIMPINAN
Tujuan kepemimpinan baik pada kelompok resmi maupun pada kelompok tidak resmi ialah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh kelompok yang bermanfaat bagi kelompok itu.

TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin, paling tidak dia harus memiliki 3 hal:
Tipe kepemimpinan otoritatif
Di dalam hal ini, dialah yang menentukan segala kebijaksanaan kelompok, rencana-rencana umum dan langkah-langkah masa datang yang harus dilaksanakan oleh kelompok atau suatu organisasi tertentu.
Tipe kepemimpinan yang bersifat demokratis
Dalam hal ini seorang pemimpin berusaha melibatkan dan mengikutsertakan seluruh anggota kelompoknya semaksimumnya pada setiap aktivitas dalam penentuan tujuan kelompok, tipe kepemimpinan yang bersifat demokratis lebih banyak menyebarkan tanggung jawab daripada memusatkan, dalam hal ini dia berusaha menggalakan serta memperkokoh kelompoknya.
Tipe kepemimpinan yang bersifat laissez-fair
Tipe seperti ini biasanya pasif terhadap kelompoknya, penentuan tujuan dan kegiatan-kegiatan kelompok tidak ia diktekan dan tidak pula ia musyawarahkan bersama-sama dengan kelompoknya, tetapi ia serahkan kepada salah satu anggota kelompok, dan dia juga tidak mengambil inisiatif apapun dalam kegiatan-kegiatan anggota kelompoknya.

SIFAT-SIFAT PEMIMPIN
Apapun jenis kelompok dan kegiatan yang dipimpin oleh seseorang setidak-tidaknya ia harus mempunyai 3 sifat yang harus ia miliki, yaitu:
Penglihatan sosial
Yang dikehendaki adalah bahwa seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan dan kecakapan untuk dapat melihat dan memahami dengan cepat perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan yang ada pada anggota kelompoknya. Sifat ini diperlukan dalam memberikan pandangan dan patokan-patokan yang menyeluruh dari keadaan yang terdapat di dalam maupun di luar anggota kelompoknya
Kecerdasan yang tinggi
Pemimpin harus memmpunyai kemampuan berfikir secara abstrak yang lebih tinggi dari rata-rata anggota kelompoknya. Sifat ini dibtuhkan terutama dalam menganalisis data dan fakta serta dalam menafsirkan kecendrungan-kecendrungan yang ada dalam kelompoknya.
Keseimbangan alam perasaan (emotional stability)
Pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk mengendalikan perasaannya dalam menghadapi hambatan-hambatan terutama saat-saat kritis yang dihadapi oleh kelompoknya, keseimbanga alam perasaan ini juga dibutuhkan untuk turut merasakan keinginan-keinginan dan cita-cita anggota kelompoknya secara nyata.

E. FUNGSI PEMIMPIN
a. pemimpin sebagai eksekutif
Sebagai eksekutif fungsi pemimpin dalam kelompoknya adalah mengkoordinir seluruh kegiatan-kegiatan kelompok, ia berfungsi langsung menentukan kebijakan-kebijakan serta bertanggung jawab menjaga dan mengarahkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada dalam kelompoknya.
b. pemimpin sebagai perencana
Sebagai perencana pemimpin memtuskan alat-alat dan cara-cara yang akan dipakai dalam mencapai tujuan kelompoknya dan dia sendiri yang lebih tahu mengenai pola umum dari rencana itu sedangkan anggotanya hanya sebagian saja dari rencana tersebut.


c. pemimpin sebagai pembuat kebijaksanaan
Dalam hal ini fungsi pemimpin adalah menciptakan tujuan-tujuan kelompok serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan dalam mencapai tujuan itu.
d. pemimpin sebagai orang yang ahli dalam bidangnya
Sebagai orang yang ahli dalam bidangnya pemimpin disini merupakan suatu sumber informasi dan keahlian yang selalu siap melayani anggota kelompoknya.
e. pemimpin sebagai yang mewakili kelompok untuk urusan-urusan luar
Dalam hal ini pemimpin mewakili kelompok untuk urusan-urusan luar dan juga ia menjadi juru bicara resmi dari kelompoknya, begitu juga mengenai masalah-masalah yang datang dari luar yang ada kaitannya dengan kelompoknya atau jika ada kelompok lain yang hendak berhubungan dengan kelompoknya.
f. pemimpin sebagai pengawas dalam interaksi yang berlangsung dalam kelompok
Fungsi pemimpin disini adalah sebagai pengawas terhadap interaksi yang terjadi dan yang berlangsung antar anggota.
g. pemimpin sebagai pemberi hadiah dan hukuman
h pemimpin sebagai penengah dan perantara
i. pemimpin sebagai contoh
j. pemimpin sebagai ideologis
k. pemimpin sebagai figur ayah dan sebagi tempat menimpakan kesalahan-kesalahan

F. PERANAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN PENDIDIKAN
Fungsi utama dari kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah mempersiapkan situasi belajar dan mengajar yang baik, dalam hal ini kepala sekolah diharapkan dapat memberikan pimpinan agar situasi belajar dan mengajar dapat terlaksana dengan baik. Tidak hanya itu ia juga harus membuat catatan-catatan tentang karakter atau kecakapan para guru dan juga siswanya, dalam hal ini hendaknya kepala sekolah menyusun suatu program perbaikan yangn bersifat kontinu.
Selanjutnya sebagai kepala sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap kemajuan guru-guru, ia harus sanggup memberikan bantuan kepada guru-guru agar para guru dapat mengerti dan dapat memberikan penilaian-penilaian terhadap kecenderungan- kecenderungan yang ada dalam masyarakat sekitar.
Tidak hanya itu kepala sekolah juga harus dapat memberikan penilaian-penilaian terhadap karakter dan kecakapan masing-masing guru, sehingga nantinya ia bisa memberikan bantuan kepada mereka dalam usahanya mengadakan perbaikan-perbaikan yang sifatnya kontinu.
Menurut Arifin Abdurrahman, dalam suautu artikel yang berjudul “kepemimpinan dalam administrasi pendidikan” yang menyebabkan orang lain suka akan kepemimpinannya ialah:
Sebab instinkta dari dalam setiap sanubari manusia karena kagum akan sifat-sifat yang dimiliki oleh si pemimpin yang mampu mempengaruhi seluruh jiwanya
Sebab tradisi, dimana terdapat suatu pengikutan karena adat dan tradisi dan apabila tidak dilakukan akan mendapatkan hukuman, karena merupakan suatu pelanggaran dari tradisi adat itu.
Sebab ratio, dimana terdapat kepengikutan karena berdasarkan pertimbangan yang rasional tentang untung ruginya dari kepengikutan itu.
Sebab peraturan hukum, dimana didapat kepengikutan karena peraturan hukum, apabila tidak dilakukan akan mendapat pidana kerena melanggar hukum yang sudah berlaku.
Ada 4 teori mengenai sumber kepemimpinan, yaitu:
Teori legal : wewenang yang didasarkan pada peraturan hukum
Teori tradisi atau adat : wewenang yang didasarkan pada peraturan-peraturan tradisi dan adat.
Teori penerimaan: wewenang yang didasarkan pada kesediaan menerima pimpinan oleh orang bawahan.
Teori kemampuan teknis (technical competence), wewenang yang didasarkan atas kekaguman karena kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang dipunyai oleh si pemimpin.
Sebenarnya antara “pemimpin” dan “kepala” itu tidak sama, kepala berada pada kelompok atau group yang bersifat formal yang diatur dengan struktur tertentu dan hubungannnya keluar bersifat formal pula, bahkan adanya kelompok itu sendiri kebanyakan diciptakan dari luar, tujuannya ditentukan dari luar dan pemimpinnya ditunjuk dari luar.
Adapun sekolah dalam hal ini dapat disamakan dengan kelompok formal, karena jarang sekali terdapat seorang pemimpin sekolah diangkat oleh anggota-anggotanya, sedangkan kepemimpinan murni terdapat pada kelompok yang bersifat tidak resmi. Yaitu kelompok yang dibentuk oleh orang-orang disana sebelum organisasi itu ada.
Diantara fungsi dan kewajiban-kewajiban kepala sekolah menurut pendapat Mc. Nerney yaitu:
mengembangkan bersama-sama dengan guru-guru filsafat yang telah diterapkann untuk sekolah itu
merencanakan suatu kurikulum bersama-sama dengan guru
menilai alat-alat pengajaran yang diperlukan oleh guru-guru
mengatur dan memajukan para siswa
mengawasi pemeliharaan gedung dan alat-alat sekolah.

TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI PENGAJARAN
Para supervisor pengajaran yang berpandangan dan berpendapat bahwa pengertian supervisi pengajaran adalah memberi penilaian terhadap pekerjaan guru selama ia mengajar disekolah tentunya akan berbeda dalam penggunaan teknik dalam melaksanakan tugasnya dengan para supervisor pengajaran yang berpandangan bahwa supervisor tidak lain daripada memberikan bimbingan atau kepemimpinan kepada guru-guru untuk mencapai kesempurnaan didalam pekerjaannya.

MENGHADIRI KE DALAM KELAS SERTA MEMBUAT CATATAN-CATATAN SELAMA GURU DAN SISWA MENGAJAR-BELAJAR
Pengaruh pandangan yang salah terhadap maksud menghadiri kedalaman kelas
Biasanya supervisor menganggap seolah-olah menghadiri kedalam kelas sama dengan melakukan suatu inspeksi didalam kelas itu, akibatnya bukan tidak sering terjadi ketika supervisor dari kantor pendidikan atau ketika kepala sekolah melakukan peninjauan kedalam kelas, mereka memperlihatkan sikap seolah-olah lebih tau dan merasa lebih daripada guru yang bersangkutan.
Maksud melakuklan penghadiran pelajaran
Mengenai keaktifan siswa yang sedang belajar kurang menjadi perhatian supervisor yang benar-benar mengerti akan tugasnya, adapun maksud-maksud mengadakan penghadiran kedalam kelas oleh supervisor adalah:
Untuk mempelajari bahan-bahan pelajaran yang dipelajari para siswa
Untuk mempelajari alat-alat yang dipakai dalam merangsang dan memimpin para siswa ketika mereka belajar.
Untuk mempelajari alat-alat yang dipakai dalam mengadakan diagnosa serta dalam memberikan bantuan terhadap kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh siswa,
Untuk mempelajari alat-alat yang dipakai untuk menilai hasil-hasil belajar
3. Sikap waktu menghadiri ke dalam kelas
Pengawas hendaklah menampakkan sikapnya bahwa tujuan utama seorang supervisor adalah menolong para guru dan siswa dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya, ini berarti adanya sikap yang harus ditampakkan adalah sikap saling menghormati, sikap yang mengandung unsur kerja sama serta mendiskusikannya dengan para guru dalam mencapai tujuan bersama.
Supervisor harus dapat menunjukkan sikap objektif yang mengandung unsur-unsur perbaikan, karena mengadakan diskusi bukanlah hendak mencari kesalahan-kesalahan dan menilai guru-guru, sikapnya hendaknya benar-benar menunjukkan rasa saling menghormati dan menghargai terhadap pendapat yang lainnya dengan tujuan agar adanya masalah-masalah yang berkaitan dapat diselesaikan bersama-sama guna perbaikan selanjutnya.
Selain itu sebagai supervisor harus sudah benar-benar siap dengan alat-alat atau perlengkapan yang akan digunakannya dalam pengumpulan fakta-fakta itu, adapun alat yang digunakan itu hendaknya dapat diterima guru sebagai alat yang cocok untuk pengumpulan data yang hendak dipelajari sehingga baik dari pihak guru maupun supervisor dapat menganalisa dan menilai data itu bersama-sama.
4. Persiapan-persiapan supervisor sebelum melakukan penghadiran pelajaran di dalalm kelas
Dalam hal ini hendaknya supervisor dapat meyakinkan guru bahwa alat-alat yang dipilihnya adalah cocok untuk mencari data-data dan keterangan-keterangan yang kelak akan dipelajarinya bersama, selain itu kepada pihak guru juga harus diberitahu maksud melakukan penghadiran pelajaran di dalam kelas, lebih-lebih kepada guru baru hendaknya dapat dijelaskan bahwa maksud supervisor melakukan penghadiran didalalm kelas bukan semata-mata untuk memberi penilaian kepada guru tetapi untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan tentang aktifitas-aktifitas di dalam kelas.
Kemudian supervisor haruslah mengetahui hal-hal yang menyangkut diri pribadi guru serta pendidikannya, pengalaman-pengalamannya, dan kecakapannya. Pengetahuan supervisor tentang diri pribadi guru ini, akan banyak memberikan bantuan kepadanya dalam menentukan sikap dan alat yang akan dipakainya nanti.

B. CARA-CARA SUPERVISOR MENGHADIIRI DI DALAM KELAS
1. Tingkah laku supervisor di dalam kelas
Supervisor hendaknya berusaha dan ingat selalu jangan sampai ia mengambil alih atau mengganggu jalan pelajaran, serta jangan lupa ia hendaknya menampakkan suatu hal yang dapat mengurang derajat guru dalam pandangan para siswa baik berupa sikap, kata-kata, maupun perbuatan.
Andaikata ada kesalahan-kesalahan guru, baik mengenai metode mengajar yang dipakai, hendaklah hal ini dicatat menurut fakta-fakta yang tampak, adapun catatan yang bersifat pertimbangan-pertimbangan pribadi hendaknya dihindarkan jauh-jauh. Apabila supervisor sudah selesai dan hendak meninggalkan kelas, sebaiknyalah ia mengucapkan ucapan-ucapan yang mengandung unsur pujian kepada guru.
2. Membuat catatan-catatan terhadap kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam kelas
Sebagai supervisor hendaknya berusaha menanamkan keyakinan kepada guru bahwa catatan-catatan yang dibuat selama guru mengajar adalah sangat penting sekali bagi guru itu sendiri untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya. Itulah sebabnya mengapa yang harus dicatat hendaknya fakta-fakta nyata, sebab fakta-fakta nyata tentang aktifitas yang dilakukannya selama ia mengajar itu dapat ia nilai sendiri.
Apabila supervisor dapat meyakinkan guru bahwa bahwa catatan-catatan itu benar-benar memberi pertolongan untuk usaha perbaikan bersama, maka akan hilangkah rasa takut atau salah faham terhadap tujuan catatan yang telah dibuat oleh supervisor.
3. Waktu dan lamanya melakukan penghadiran kedalam kelas
Di dalam menentukan berapa lama supervisor seharusnya berada di dalam kelas, hal ini tergantung kepada data-data yang hendak dikumpulkan, serta pertolongan apa yang hendak diberikan kepada guru atau kepada kelas yang bersangkutan, tetapi jangan sampai kurang dari selam jam pelajaran itu berlangsung, sebab jika kurang akan sangat kurang pula diperoleh data-data dan fakta-fakta yang terjadi di dalam kelas.

C. ALAT-ALAT YANG DIPAKAI UNTUK MENGUMPULKAN DATA-DATA SELAMA MELAKUKAN PENGHADIRAN KE DALAM KELAS
1. Problema menentukan alat
Problem ini disebabkan adanya perbedaan-perbedaan tujuan di dalam mengumpulkan data-data dan fakta-fakta oleh pengawas, jadi keruwetan yang ada didalam kelas, keragaman yang ada didalam kegiatan-kegiatan, di dalam usaha-usaha, di dalam prosedur-prosedur, serta perbedaan tentang mata pelajaran yang dipelajari, akan menimbulkan problem pula dalam menentukan alat.
2. Ukuran tentang menentukan alat yang baik
Alat yang digunakan haruslah bersifat valid, reliable, dan objektif yaitu suatu alat yang dapat dipercayai kebenarannya dalam memperoleh data-data dan fakta-fakta yang serupa, jika dipakai berkali-kali, kalau sama hasilnya antara data-data yang dikumpulkan oleh dua orang dan keduanya menggunakan alat yang sama dan valid, maka alat yang dipakai oleh kedua orang itu adalah reliable. Data-data yang dimaksud disini adalah data-data mengenai fakta dan data mengenai proses belajar mengajar.
3. Bentuk alat-alat yang dapat dipakai
` a. Check-list
Yang dimaksud dengna check list adalah suatu daftar yang mengandung beberapa statement yang dapat di cek nanti oleh pengawas, statement yang akan dicek ini berisi susunan semua kegiatan-kegiatan dalam hal-hal mengajar dan belajar seperti tujuan pelajaran, penguasaan kelas, alat pelajaran yang dipakai untuk menilai hasil-hasil pelajaran.
check list disini dibagi menjadi dua yaitu:
• Evaluative check list: terdiri dari statement- statement yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dinilai yang pada akhir setiap statement terdapat skala yang berisi jawaban yang diinginkan oleh pengawas.
• Activity check list: berisi aktifitas-aktifitas, prosedur-prosedur atau kejadian-kejadian yang bersifat fakta yang mungkin terjadi di dalam kelas itu.
b. Attention Charts
Alat ini merupa suatu label yang berisi mata pelajaran yang sedang berlangsung, waktunya, serta perhatian murid terhadap mata pelajaran itu.
c. Diary Record
Yang dimaksud adalah sejumlah catatan-catatan tentang apa yang dikatakan oleh guru maupun oleh murid selam proses belajar mengajar berlangsung, yang didalamnya berisi keterangan-keterangan, pertanyaan-pertanyaan, dan semua perbuatan guru, serta jawaban-jawaban dari pertanyaan, dan segala perbuatan murid salama pelajaran berlangsung.

D. MENGADAKAN PEMBICARAAN DENGAN GURU-GURU
Mengadakan pembicaran antara supervisor dengan pihak guru sangatlah penting sekali, karena dalam pembicaraan itu nanti dapatlah pihak guru dan supervisor saling mengemukakan pendapat, atau guru-guru dapat menerima nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk dari supervisor untuk perbaikan dalam proses belajar mengajar selanjutnya.
1. Pembicaraan secara individu
a. Hal-hal yang dibicarakan
Dalam pembicaraan yang sifatnya individual hal-hal yang dibicarakan terutama ialah penilaian dari kedua belah pihak, yakni antara guru dan supervisor terhadap data-data dan keterangan-keterangan yang dicatat selama situasi belajar mengajar berlangsung.
b. Kriteria-kriteria untuk menilai data-data yang diperoleh dari dalam kelas
Di dalam menyusun suatu kriteria yang harus diperhatikan adalah tujuan yang hendak dicapai serta alat-alat yang dipakai untuk mencapai tujuan itu, tujuan yang harus dicapai hendaknya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, sedangkan alat yang digunakan hendaknya berhubungan erat dengan psikologi belajar dan dengan metode mengajar, jadi yang terlebih dahulu dicantumkan adalah mengenai tujuan utama yang perlu dicapai.
Prinsip-prinsip psikologi belajar tentang pemilihan, penyusunan, dan penghidangan bahan-bahan antara lain adalah:
1). Kenyataan dari psikologi belajar tentang motivasi dan minat mengajarkan bahwa bahan-bahan pelajaran hendaklah:
a. Menggambarkan suatu situasi yang penting dalam kehidupan siswa-siwa yang telah dikenalnya.
b. Mempunyai arti bagi para siswa
c. Cukup kuat memberikan tantangan (Challenge) dan cukup kuat memberikan keyakinan agar sukses
d. Di hubungkan dengan perkembangan siswa siswi sendiri dan dengan latar belakang pengalaman-pengalaman mereka
2). Kenyataan dari psikologi belajar tentang perbedaan yang terdapat pada masing-masing individu mengajarkan, bahwa bahan pelajaran itu hendaklah:
a. Membentuk suatu pola perkembangan dan pertumbuhan di dalam kehidupan anak
b. Disesuaikan dengan kematangan siswa
c. Dihubungkan dengan latar belakang, pengalaman, dan perbendaharaan masing-masing siswa.
3). Kenyataan dari psikologi belajar mengajarkan bahwa situasi belajar yang paling baik terjadi bilamana bahan-bahan:
a. Cukup umum untuk melengkapi dasar-dasar pengertian sosial
b. Melengkapi aplikasi yang bermacam-macam dan sering dilakukan, sehingga ada suatu kesempatan untuk melakukan transfer
c. Para siswa diajar dari hal-hal yang umum ke hal-hal yang khusus
4). Kenyataan dari psikologi belajar tentang suatu unit pengajaran mengajarkan bahwa:
a. Skop suatu unit harus ditentukan oleh pengalaman-pengalaman para siswa yang telah ada terlebih dahulu, sehingga dengan pengalamannya siswa dapat menfokuskan secara efektif kepada masalah yang dihadapinya.
b. Urutan-urutan suatu unit harus diselaraskan dengan perluasan kecakapan dan kekuatan pemuda secara kontinu, dengan mengarahkan kepada suatu perluasan pengertian tentang syarat-syarat kehidupan sosial.
c. penilaian suatu unit hendaklah berada di dalam batas-batas pengertian, sikap-sikap, kebiasaan-kebiasaan, dan keahlian yang dinyatakan sebagai hasil-hasil yang dikehendaki.
Apabila penganalisaan terhadap data-data itu sudah dianggap cukup teliti dan cukup tersendiri, maka kriteria-kriteia yang sudah dirumuskan itu dapatlah digunakan sebagai standar penilaian terhadap kriteria-kriteria yang sudah dirumuskan itu dan diperlukan pula suatu penganalisaan. Oleh Broadman penganalisaan terhadap kriteria yang sudah dirumuskan, dilakukan dengan membuat pertannyaan-pertanyaan sebagai berikut:
Adakah tujuan yang hendak dicapai selama pelajaran itu sesuai dengan yang diinginkan masyarakat, adakah pula tujuan itu memberikan bantuan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu lainnya?
Bagaimanakah tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama jam-jam pelajaran berlangsung itu dikembangkan, sesuaikah pencapaian pendidikan itu sesuai dengan yang diinginkan?
Adakah bahan-bahan, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman itu cukup berarti bagi siswa?
Adakah keragaman dalam pengalaman dan dalam aktifitas para siswa digunakan dengan tepat untuk menolong mereka dalam belajar.

2. Cara pelaksanaan pembicaraan
Pembicaraan yang bersifat individual antara supervisor dan guru sebaiknya ditentukan waktunya, tempatnya, serta prosedur-prosedur yang baik mengenai pembicaraan itu.
Jumlah pembicaraan
Jumlah pembicaraan yang diadakan erat sekali hubungannya dengan jumlah seringnya supervisor itu menghadiri suatu kelas untuk memperoleh data-data tentang situasi belajar dan mengajar, selain itu jumlah pembicaraan ini bergantung kepada masalah guru muda dan guru baru.
Waktu dan lamanya pembicaraan
Mengenai lamanya hendaklah diusahakan agar kedua belah pihak merasa cukup puas dalam pembicaraan-pembicaraan itu, tetapi jangan pula hendaknya terlalu lama sehingga menimbulkan kebosanan bagi pihal guru.
Tempat pembicaraan
Sebaiknya tempat dan ruangan yang digunakan adalah ruangan guru, karena selain ruangan ini sudah biasa bagi guru, juga ruangan ini dapat menimbulkan suasana kolega, suatu suasana yang sangat diperlukan untuk kelancaran dlam pembicaraan.
Prosedur-prosedur pembicaraan
Bagi supervisor yang benar-benar ingin memperoleh hasil yang baik dalam mengadakan dan memimpin pembicaraan dengan guru mengenai data-data tentang situasi mengajar dan belajar yang telah diperoleh, dianjurkan cara-cara berikut:


Ramah dan menunjukkan rasa simpati
Supervisor hendaknya harus dapat menunjukkan kepada guru bahwa ia menghormati personaliti si guru, dengan menunjukkan sikap ramah tamah, rasa simpati, serta rasa hormat terhadap personaliti guru.
Pembicaraan hendaklah dimulai dengan suatu acara yang berisi tujuan pembicaran, maksud-maksud yang hendak dibicarakan dan peninjauan kembali terhadap fakta-fakta atau data-data, hal ini dapat dibuat oleh supervisaor sendiri maupun dari pihak guru.
Pembicaraan hendaknya diusahakan sekonstruktif mungkin.
Di dalam pembicaraan haruslah tampak bahwa maksud dan tujuan supervisor adalah menolong dan membimbing guru dalam memecahkan setiap masalah yang ada
Menghormati pendapat guru.
Supervisor hendaknya berpendirian bahwa menghormati pendapat dan pandangan guru adalah merupakan suatu prinsip, dia tidak boleh mengejek dan menertawakan guru, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
5. Pembicaran hendaknya diakhiri dengan suatu persetujuan bersama yang berisi cara-cara pemecahan masalah dan cara-cara mengadakan perbaikan.

3. Pembicaraan yang bersifat kelompok
Yang dimaksud dengan pembicaran yang bersifat kelompok adalah pembicaraan atau pertemuan-pertemuan yang diadakan bersama-sama antara kepala sekolah dengan guru-guru, atau antara kepala sekolah, supervisi dan guru-guru. Di dalam pembicaran itu hendaknya kepala sekolah, guru dan supervisor membicarakan masalah-masalah yang erat kaitannya dengan perbaikan-perbaikan yang akan diadakan di sekolah itu.
Bahan pembicaraan
Bahan pembicaraan di dalam pembicaraan yang sifatnya kelompok, hendaklah mengenai masalah yang betul-betul dihadapi oleh seorang guru dan yang ingin mereka selesaikan bersama-sama, walaupun bagi supervisor sendiri masalah tersebut dianggap kurang begitu penting.
Waktu mengadakan pembicaran
Hal yang menjadi pedoman di dalam menentukan waktu hendaklah kemungkinan guru-guru hadir dalam keadaan segar (tidak dalam keadaan letih), baik jasmani maupun rohani. Mengenai lamanya waktu pembicaran hal ini tergantung kepada masalah yang dibicarakan.
Tempat pembicaraan
Pada umunya tempat pembicaran yang bersifat kelompok diadakan di salah satu ruangan kelas sekolah itu, adapun alat-alat yang digunakan semisal meja, kursi adalah semata-mata alat yang ada diruangan itu. Ruangan khusus yang dapat dipakai untuk menngadakan pembicaraan yang sifatnya kelompok hendaklah cukup luasnya serta mendapat cahaya dan udara yang cukup pula.

Fungsi pemimpin pembicaraan pada pembicaraan yang bersifat kelompok
Adapun fungsi-fungsinya adalah sebagai berikut:
Pemimpin pada pembicaraan yang sifatnya kelompok harus dapat menimbulkan suatu suasana pembicaraan yang ramah tamah dan koperatif
Jika anggota kelompok belum dapat memahami dan mengnembangkan acara, pemimpin kelompok hendaklah berusaha menolong dan mengembangkan
Ketika pembicaraan diteruskan, pemimpin harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar seluruh anggota turut serta mengambil bagian dalam pembicaraan-pembicaraan itu.
Pemimpin pembicaraan haruslah berusaha memusatkan perhatian seluruh anggota kepada masalah yang sedang dibicarakan.
Pemimpin pembicaran haruslah menjaga agar pembicaraan tetap menuju kepada kemajuan-kemajuan.
Kalau timbul adannya perbedaan pendapat antara anggota, terutam antara para anggota yang agresif, pemimpin pembicaraan harus dapat mencegah keadaan yang demikian sehingga perdebatan yang terjadi dapat dihindari.
Memimpin kelompok itu untuk mengambil keputusan-keputusan.





.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar