Selasa, 25 Januari 2011

Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan
(makalah pendidikan)

Paham “ Orang Dewasa Dalam Bentuk Kecil”
Maksudnya anak adalah seorang manusia yang memiliki struktur mental yang disamakan dengan orang dewasa, mereka mempunyai cara yang sama seperti orang dewasa untuk menyatakan kenyataan dan menghayati dunia sekitarnya. Yang sebenarnya adalah anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa, mereka bukan orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka mempunyai cara yang khas dalam menyatakan kenyataan dan memandang dunia sekitar, maka memerluakan pelayanan sendiri dalamj belajar.
Implikasi paham ini adalah :
Anak memiliki dunia sendiri, sebagai seorang anak. Jadi ketika mengangap anak seperti orang dewasa ini tidak tepat, karena anak belum dapat berfikir layaknya orang dewasa dan bertanggung jawab atas segala yang diperbuatnya. Apabila itu terjadi maka anak tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara maksimal, dan menimbulkan kemalasan belajar karena tidak dapat mengikuti penyampaian materi. Perlu di ingat bahwa :
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda. Oleh kar3ena itu guru menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
Learning Community
Learning Community merupakan suatu teknik belajar dengan bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik dibanding dengan belajar sendiri atau kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagi gagasan dan pengalaman, ada kerja sama untuk memecahkan masalah. Anak akan berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk dapat memecahkan masalah. (Nurhadi dkk, 2004:47).
Langkah-langkah membangun learning community
1) Menyajikan situasi yang merumuskan pertanyaan-pertanyaan.
2) Merencanakan investigasi (penelitian), Merencanakan secara kolaboratif pembelajaran yang akan diteliti.
3) Melaksanakan investigasi, Mengobservasi rancangan pembelajararan ketika dilaksanakan di kelas.
4) Menyajikan temuan-temuan, Mendiskusikan secara reflektif hasil observasi.
5) Mengevaluasi investigasi, Merevisi pembelajaran berdasarkan hasil refleksi.

anak semakin acuh tak acuh kepada lingkungan
analisis beberapa aspek psikologi
anak memiliki kepekaan dalam mengidentifikasi diri mereka seperti orang lain. Anak mem butuhkan figur teladan yang bisa merefleksikan jati diri mereka. Pola keteladanan yang baik dari orang dewasa, merupakan hal yang tepat sebagai media pengarahan dan pembinaan bagi remaja. Anak/remaja adalah plagiator yang ahli.Tanpa me mori yang dimasukkan ke da lam sistem otaknya, maka mungkin ia dapat me ngembangkan kepribadiannya secara utuh.Tanpa disadari mereka telah digurui dan berguru pada figur yang menjadi teladannya.
Orientasi penayangan acara TV tidak sepenuh nya masalah pendidikan, tetapi cenderung berori entasi pada produk “yangpenting laku dan menarik, sehingga masuk rating teratas” di pasar. Tidak he ran TV saat ini banyak menyajikan acara-acara yang menggambarkan dunia kekerasan, kebruta lan, ambisius, penganiayaan, bahkan pornoaksi. Dunia maya yang penuh gairah membuat libido menjadi naik disajikan oleh situs-situs internet. Bisa diakses tanpa ada sensor. Aksi gaya kekerasan dan hubungan intim “free sex” dapat anak-anak/remaja nikmati juga di layar ponsel-ponsel (HP) mereka.
peran guru lebih kecil dibanding peran TV yang selalu jadi santapan mengasyikkan anak-anak/remaja, tak terkecuali juga orang dewasa. Prosentase waktu anak-anak/remaja di rumah lebih banyak dibandingkan di sekolah.Hingga pe ran guru tergusur oleh tokoh-tokoh idola mereka di TV. Lingkungan merupakan faktor terpenting untuk menumbuhkan kepribadian anak, jadi yang membuat anak acuh tak acuh salah satunya adalah lingkungan (keluarga, sekolah, bermain)

langkah-langkah penanganan
Peka dan Peduli akan Kebutuhan Anak
Anak kadang mengalami konflik batin. Dalam situasi seperti itu, anak/remaja justru sulit diajak komunikasi. Orangtua yang paham karakter dan potensi anakJika terjadi perobahan segera tanggap memberikan perhatian.Tetapi orangtua tidak memaksakan anak mendengarkan kata-katanya apalagi mengikuti nasehatnya karena anak justru menjadi sulit mencema.
2. Pujian dan Cemooh
Setiap orangtua mempunyai harapan tertentu kepada setiap anaknya. Bila harapan orangtua meleset,orangtua akan mencemooh, menghina dan marah-marah. Hal ini akan merusak perasaan anak dan akan merasa tidak mampu, sehingga takut untuk mengambil langkah/resiko berikutnya. Bahkan jika soring dicemooh dan dimarahi tanpa disertai jalan pemecahan, anak cenderung bersi kap acuh tak acuh terhadap lingkungannya. Lebih bijak sana jika orangtua member! pujian terhadap setiap keputusan yang diambil anak walau kadang bertenta ngan dengan maksud orangtua, tetapi di sertai pengarahan dan bimbingan. Dengan demikian orang tua telah mendidik anak bertanggung jawab.
3. Hindari Memotong Pembicaraan Anak
Dalam menghadapi anak, orangtua cenderung bersikap diktator.Ini harus dihindari,tetaplah mendengarkan ungkapan/curhat anak baik sesuatu yang bersifat menggembirakan ataupun yang kurang menyenangkan,tanpa memotong pembicaraan. Anak akan merasa diperhatikan dan dihargai sehingga akan mendorong anak juga menghargai pendapat orang lain.
4. Bersedia Menjawab Pertanyaan Anak

Jika anak bertanya pada orangtua berarti ia percaya pada orangtuanya. Kepercayaan ini perlu dijaga, sebab jika orangtua menganggap sepele pertanyaan anak ,akan membawa anak pada sikap menutupi diri. Sebaiknya.menjawab pertanyaan jangan asal-asalan karena akan menimbulkan keke cewaan pada anak. Menjawab pertanyaan dengan baik dan tepat, akan menolong tumbuhnya rasa percaya diri dan harga diri. Ini baik untuk perkemba ngan emosional anak.
5. Hargai Perbedaan Pendapat
Orangtua haras sadar bahwa dirinya tidak selalu tahu dan bisa. Jika terjadi beda paham, har gailah pendapat anak. Jalan pikiran anak sering tidak sama dengan  kehendak orangtua. Menuntut anak agar mempunyai pikiran dan perasaan yang sama dengan orangtua merupakan tindakan yang tidak manusiawi.

HOME SCHOLLING
Dipandang dari sisi positif dan negatifnya, Homeschooling memiliki beberapa pertimbangan penting.
Dilihat dari sisi positifnya :
yang pertama homeschooling mengakomodasi potensi kecerdasan anak secara maksimal karena setiap anak memiliki keberagaman dan kekhasan minat, bakat, dan ketrampilan yang berbeda-beda. Potensi ini akan bisa dikembangkan secara maksimal bila keluarga memfasilitasi suasana belajar yang mendukung di rumahnya sehingga anak didik benar-benar merasa at home dalam proses pembelajarannya
Yang kedua, metode ini mampu menghindari pengaruh lingkungan negati yang mungkin akan di hadapi oleh anak di sekolah umum. Pergaulan bebas, tawuran, rokok dan obat-obat terlarang menjadi momok yang terus menghantui para orangtua, sementara mereka tak dapat mengawasi putra-putrinya sepanjang waktu
Dilihat dari sisi negatifnya :
yang pertama, dikhawatirkan siswa yang mengikuti metode pendidikan ini akan teralienasi dari lingkungan sosialnya sehingga potensi kecerdasan sosialnya tidak muncul
Yang kedua, Persoalan legalitas
Dampak-dampak home scholling adalah
Dampak positif
Menumbuhkan potensi kecerdasan anak secara maksimal
Terhindar dari pengaruh buruk lingkungan.
Dampak negatif
Menutup kecerdasan sosial dan tidak dapat merasakan kepekaan sosial.
Lebih menutup diri dari lingkungan masyarakat, karena tidak terbiasa dengan pergaulan dengan masyarakat sosial.
Menimbulkan sikap ketidakpercayaan terhadap siapapun, kecuali keluarga yang dikenal.
Anak merasa terkekang, karena tidak dapat bergaul dengan teman sebaya.
Menimbulkan pandangan anti sekolah.

Developmentally Appropriate Practice (DAP)
urgensi pendekatan
DAP atau dalam terjemahan bebas bahasa Indosesia adalah pendidikan yang patut dan menyenangkan sesuai dengan perkembangan anak, mencerminkan proses pembelajaran yang bersifat interaktif. Konsep DAP yang dikembangkan melalui beragam kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak menyebabkan anak memiliki pengalaman yang konkret serta menyenangkan saat terjadinya proses belajar, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran (awareness) pada anak
Kendala-kendala
Pemaksaan ujian tiga mata pelajaran yang harus dicapai peserta didik, tidak sesuai dengan DAP.
Guru cenderung hanya menuntaskan materi yang harus diajarkan kepada siswa tanpa memasukkan nilai-nilai karakter melalui pelajaran
Diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyamakan perkembangan siswa satu dengan yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar